Friday, 4 March 2016

Pengalaman di Kota Mati Oradour Sur-Glane, Perancis







Oradour je crie et hurle                       -   Oradour I cry and scream

Chaque fois qu'un coeur éclate           -   Each time one heart split
Sous les coups des assassins              -   Under the assassin’s assault
Une tête épouvantée                           -   A scary face
Deux yeux larges deux yeux rouges   Two large red eyes
Deux yeux graves deux yeux grands  Two sorrow eyes, two large eyes
Comme la nuit la folie                         -   Like the night, out of mind
Deux yeux de petits enfants:               Two eyes of kinders
Ils ne me quitteront pas.                       They’ ll always keep in my mind



Itulah sepenggal puisi dari Jean Tardieu yang menggambarkan kengerian Oradour sur-Glane saat seluruh penduduk di bantai oleh tentara Nazi pada saat perang dunia ke-2.



Oradour Sur-Glane, sebuah desa yang terletak di wilayah Haute-Vienne, Sekitar 412 km sebelah selatan Paris. Merupakan saksi bisu akan kejamnya pembantaian yang dilakukan oleh tentara Nazi terhadap seluruh penduduk di desa ini. Tanggal 10 Juni 1944, 200 tentara Waffen SS Jerman mendarat di kota ini lalu tanpa alasan yang jelas mulai membunuh, membakar dan membantai 642 penduduk desa, termasuk 193 anak-anak. Sejak itu kota inipun hancur berantakan, tidak ada lagi penduduk yang lalu lalang, tidak ada lagi tawa canda anak-anak, yang tertinggal hanya puing-puing bekas pembakaran dan pembantaian.



Sebelum masuk ke dalam kota Oradour sur-Glane, terdapat sebuah tugu dengan puncak sebuah patung wanita yang sedang terbakar. Sebuah patung yang cukup memilukan. Dan di depan gerbang pintu masuk terdapat sebuah tulisan “Souviens-Toi”. Artinya, “Kenanglah”…






Dan saat kaki menginjak di jalan utama kota ini, pemandangan yang terlihat hanya deretan rumah-rumah bekas terbakar, yang hanya menyisakan dinding bata serta warna hitam dibeberapa bagian. Di beberapa pojokan sudut jalan masih tersisa rongsokan mobil yang sudah berkarat. Dan setiap kali saya memandang ke dalam sebuah rumah, hanya terlihat beberapa perabotan rumah tangga yang sudah terbakar dan berkarat, seperti mesin jahit, sepeda, serta puing-puing bata yang hancur berantakan. Dan di beberapa rumah terdapat papan yang menceritakan apa yang terjadi pada rumah tersebut, seperti cerita sebuah rumah dibakar beserta seluruh penghuninya. Sayapun mulai membayangkan bagaimana keluarga itu dalam kobaran api yang mulai menjilati tubuh mereka, sedangkan mereka tidak bisa keluar dari rumah yang sedang terbakar. Dan sayapun cepat-cepat berlalu dan meneruskan perjalanan saya.









Ketika saya sampai di sebuah gereja dan saat kaki memasuki reruntuhan gereja, saya bisa merasakan kengerian yang terjadi di dalam gereja ini, saat tentara Nazi membakar gereja dengan 190 orang yang disekap di dalamnya. Menurut para saksi yang berhasil melarikan diri dari pembakaran itu, menuturkan bahwa penduduk desa yang ditangkap dan masih hidup lalu dikumpulkan dalam gereja, pria, wanita dan anak-anak. Lalu tentara Nazi itupun mulai menembaki kaki para tahanan supaya mereka mati secara pelan-pelan dan tidak bisa melarikan diri. Dan saat gereja mulai dibakar, banyak yang berusaha keluar, tetapi di luar telah menunggu tentara yang siap menembak bila ada yang berusaha melarikan diri, dan hanya 5 orang saja yang berhasil menyelamatkan diri, dan merekapun menceritakan kengerian yang terjadi saat mereka dibakar. Mendengar sejarah kelam gereja ini membawa bayangan saya akan kengerian yang terjadi saat gereja di bakar, bagaimana para pria mulai menyelamatkan diri, sedangkan wanita dan anak-anak mulai berteriak histeris dan tidak berdaya, hanya menyerah saat tubuh mereka mulai dijilati panas api yang membara. Suara kengerian, jeritan, lalu diam dan hanya api yang terlihat melahap gereja beserta isinya.

Di dalam gereja terdapat sebuah lonceng gereja sebagai saksi bisu akan dahsyatnya api yang melahap, lonceng yang sudah lumer dan hanya menyisakan beberapa besi yang sudah menciut karena panasnya api yang membakar.

Hampir seluruh gereja rusak parah, hanya menyisakan beberapa bagian saja dengan dinding yang masih kokoh.


Gedung gereja yg hancur

Bekas lonceng gereja yang terbakar hebat



Rasanya tidak tahan berlama-lama dalam gereja yang penuh dengan kengerian, sayapun keluar dan berjalan mengelilingi kota ini. Jalanan terlihat begitu bersih dan masih terlihat sebuah lintasan untuk trem. Banyak turis yang mengunjungi Oradour sur-Glane, tetapi tidak ada decak kagum, hanya diam seribu bahasa dengan mimik penuh kesedihan dan kengerian.
Lalu sayapun melihat sebuah sumur yang sudah rusak parah, dan ternyata sumur inipun menjadi saksi bisu sebagi tempat pembuangan mayat penduduk yang telah dibunuh secara massal.

Selain reruntuhan rumah juga terdapat bangunan pertokoan dan bank, seperti toko mobil Renauld, bengkel mobil, dan pemadam kebakaran. Semuanya hanya menyisakan dinding dengan sisa warna kehitaman sebagai saksi sejarah kejamnya perang masa itu.



Bangunan bekas showroom Renauld

Sumur saksi bisu tempat pembuangan jenasah penembakkan



Pada tahun 1946 pemerintah Perancis memutuskan Oradour sur-Glane sebagai desa peringatan, kenangan akan masa perang dibawah jarahan Jerman dan kekejaman tentara Nazi. Dan tahun 1999 dibangun sebuah museum Centre de la mémoire d’Oradour, di museum inilah para pengunjung dapat melihat foto-foto Oradour sur-Glance sebelum dibakar, barang-barang penduduk yang masih tersisa, serta yang sudah terbakar, seperti jam tangan yang jarumnya berhenti pada saat pemiliknya dibakar hidup-hidup. Dan museum ini juga sebagai pintu masuk ke Oradour sur-Glane.

Tidak jauh dari Oradour sur-Glane, pada tahun 1953 pemerintah membangun kota Oradour yang baru, dengan jumlah penduduk lebih dari 2.200 orang. Bangunan yang dibangunpun hampir seperti di Oradour sur-Glane, dan di kota inilah para pelancong dapat menginap.



Selain berkunjung di siang hari, terdapat paket tur malam hari juga di kota yang dijuluki sebagai kota hantu dari perancis ini. Berani mencoba travelers?



Pada Setiap tanggal 10 Juni, warga Oradour baru dan pemerintah Perancis mengadakan upacara peringatan peristiwa 10 Juni 1944 di Oradour. Meskipun desa itu telah hampa dan hancur, tetapi sejarahnya akan selalu dikenang. Souviens-toi



Oh ya untuk menuju ke Oradour sur-Glane dari Paris bisa naik kereta ke Limoges, lalu naik bus no.12 menuju ke Oradour. Sehari 3X bus menuju ke Oradour tetapi harus di cek apakah ada perubahan untuk week end dan hari libur. 



Happy Traveling....

Ngetrip ke mana lagi...

2 comments:

Eddy Hartono said...

Mau nanya nih, kl kt sdh punya visa schengen multipel bs xipakai juga untuk macedonia? Walau berangkat dr negara nonschengen lainnya? Misalnya dr turki. Rencana sy masuk ke macedonia lewat amsterdam lalu xr maxedonia mau ke antalya turki dan balik lg ke macedonia ke amsterdam lg. Pengalaman tahun lalu hampif sy ditolak wkt ek in di konter klm krn tdk ada visa croatia(non schengen) untung ada supervisor mereka yg senior mengatakan kl punya visa schengen dan terbang dr amzterdam bisa tanoa visa croatia.mohon infonya yah apa bisa spt rencana perjalanan sy. Kl ada infonya bs dong di share ke email sy. eddyhartono_spog@yahoo.com
Makazih zsbelumnya

Mimi Champy said...

@Eddy Hartono Ke Macedonia bisa dgn visa schengen multiple entry tipe C, dan juga visa tinggal tetap di uni Eropa, mas.