Sunday, 3 May 2015

Amsterdam - Si Cantik yang Bikin Kangen






Perjalanan kali ini hanya saya dan adik saya saja, sedangkan anak-anak dan suami melakukan aktifitas di taman bermain di camping park.

Kadang dalam suatu perjalanan, kita tak memiliki waktu banyak, seperti perjalanan kali ini ke Amsterdam. kami hanya punya waktu dari jam 15.00 hingga 21.00, sebelum kembali ke Recreatiecentrum Koningshof, dimana kami menginap.



Amsterdam adalah salah satu kota yang menjadi tujuan wisata dunia, dan terdapat begitu banyak yang di tawarkan oleh kota ini. Kota terbesar di Belanda yang sangat majemuk karena dihuni dari berbagai suku bangsa dari seluruh penjuru dunia ini, juga dikenal dengan sebutan 'The Venice of the North'. Dan sebutan itu tidaklah salah dikarenakan Amsterdam memiliki 165 kanal lengkap dengan perahu untuk wisata dan lebih dari 1200-an jembatan yang unik. Tidak hanya kanal dan jembatan, kota inipun penuh dengan para pesepeda, bahkan sepeda lebih banyak daripada penduduknya! Dan salah satu cerita dari supir becak yang kami tumpangi, dikatakan bahwa barang yang paling sering dicuri di Amsterdam adalah sepeda.




Ketika kami sampai di stasiun Amsterdam Centraal, kamipun langsung menuju ke turis informasi untuk mendapatkan city map, yang akan menjadi acuan perjalanan kami mengelilingi kota ini. Dan satu hal yang saya suka selama jalan-jalan di Amsterdam adalah, kita dapat berkeliling di sini hanya dengan jalan kaki, atau naik tram, dan kalau cape bisa naik becak atau yang dikenal 'fietstaxi/reistaxi, dan harganyapun tidak semahal di Paris, serta penduduk di Amsterdam dan Belanda umumnya berbahasa Inggris dengan lancar. Selain jalan kaki atau naik becak, kitapun bisa menikmati kota Amsterdam dengan water taxi atau water bus, moda transportasi air, bahkan terdapat juga kereta kuda ala jaman dulu.




 Moda transportasi air


 Becak yg kami tumpangi


Ketika kami sampai di Centrum Amsterdam atau Dam Square, yang adalah sebuah alun-alun kota Amsterdam, para penduduk dan pedagang sedang mempersiapkan King's Day yang jatuh pada tanggal 27 April, ulang tahun raja Belanda yang baru. Begitu ramai serta banyak stand permainan anak-anak dan permainan untuk orang dewasa juga, benar-benar sungguh meriah, tetapi sayang kami datang tidak pada saat King's Day. Di Dam Square ini, kami menjumpai banyak sekali bangunan kuno yang masih terpelihara dengan baik, seperti Koninklijk Paleis (istana Royal Palace of Amsterdam), Nieuwe Kerk (sebuah gereja tua), National Monument (monumen PD II), dan tentu saja museum lilin Madame Tussaud, serta shopping center dan pabrik pengasahan berlian. Sayang kami tidak masuk ke museum lilin Madame Tussaud, dikarenakan harga tiket yang lumayan mahal bagi kantong kami, serta waktu yang tidak cukup banyak untuk berkeliling di dalamnya. 




Dam Square


 Koninklijk Paleis


 Nieuwe Kerk


 Museum Madame Tussaud

 
Selama berjalan menyusuri kota ini, kami menemukan banyak sekali museum yang terdapat di Amsterdam, sekitar 75 museum, diantaranya Museum Anne Frank, Museum Van Gogh, Museum Diamond, Museum Stedelijk, Museum Rijks, Museum maritim, Museum Tropen, dan bahkan kamipun menemukan museum Seks dan Erotis, serta museum prostitusi! Wah.. lengkap yah... Bahkan kami bertemu sebuah museum 'The Amsterdam Dungeons', yaitu sebuah museum yang mempertontonkan dan merasakan teror serta horor penyiksaan pada masa abad pertengahan. Dengan tema yang diusung oleh museum ini, 'Bringing to live 500 years of the Dutch dark history', cukup menguji nyali bagi para pengunjung, dengan harga tiket masuk 15 euro/orang tergantung musim. 



 
Sepertinya Amsterdam adalah kota yang paling bebas di Belanda, dimana legalisasi tanpa batas atas prostitusi, peredaran obat terlarang, serta perjudian. Sehingga tidak heran bila jaringan bisnis ini berkembang dengan pesat.

Ketika kami bertemu dengan teman yang tinggal di Belanda, dan kami di bawa ke red street district, saya sampai terkaget-kaget dengan segala kebebasan yang begitu terbuka di kota ini. Sex shop dengan berbagai jenis dagangannya yang terpampang di depan jendela kaca, bahkan beberapa jendela rumah pendudukpun dihias dengan boneka yang berbau porno. Walaupun saya sudah sering melihat red district di Paris, tetapi saya tetap dibuat shock selama mengunjungi Amsterdam. Setiap kali melewati coffeeshop remang-remang, saya pikir coffeeshop itu seperti cafe di tempat lain yang menjual kopi dan makanan kecil, tetapi di Amsterdam adalah tempat untuk menjual mariyuana, ganja dan sejenisnya, tidak heran setiap kali melewati cafe-cafe ini, bau-bau yang aneh tercium dengan tajam. Bahkan cannabis/ganja ini dicampur dengan berbagai jenis minuman ataupun makanan seperti permen lolipop.




Salah satu hiasan depan jendela rumah penduduk



 Minuman beralkohol dgn campuran ganja


 Lolipopdgn campuran ganja


Soal yang berbau erotis, kami melihat banyak papan iklan massage erotis bahkan kami bertemu sebuah air mancur dengan bentuk porno pula, jadi tidak heran ketika menemukan bendera kota ini dengan lambang XXX membuat kami berpikir lambang sex yang identik dengan kota ini, padahal tidaklah demikian.
 

 Bendera Amsterdam dgn lambang XXX


Arti dari lambang XXX adalah tiga salib Santo Andrew yang memang berhuruf X. St. Andrew adalah seorang nelayan yang hidup di abad pertama, dan dikatakan telah disalibkan di kayu salib yang berbentuk X. Dan St. Andrew adalah santo pelindung kota Amsterdam pada masa Katolik mendominasi Belanda, sehingga lambang dan bendera kota Amsterdam dengan huruf XXX.

Selain hal-hal kebebasan di Amsterdam, saya menemukan banyak bangunan yang menakjubka dan terpelihara serta tertata dengan indahnya, selain fungsinya sebagai monumen, museum, hotel, bahkan rumah penduduk. Sepertinya pemerintah Amsterdam mempunyai kebijakan khusus untuk melindungi segala bangunan ataupun monumen di kota ini, bahkan kanal-kanal, jembatan tua, semuanya terpelihara dan tertata dengan indah, dan didayagunakan dengan sangat baik. Melihat hal-hal ini saya teringat akan Jakarta bagian utara, dimana terdapat wilayah 'Kota Tua', yang kaya akan bangunan tua peninggalan Belanda, tetapi sudah tidak terawat dan terurus, hanya tinggal rubuh saja. Seandainya dirawat dan di tata mungkin bisa menjadi salah satu objek wisata bagi kota Jakarta. 


 






 Salah satu bangunannya mengingatkan saya museum wayang di JKT




Kembali ke Amsterdam, saat saya dan adik saya sedang asyik bergerilya dan terkagum-kagum dengan bangunan tua yang cantik berderet di depan kanal, tiba-tiba mendapat telepon dari teman yang sudah menunggu kami di alun-alun kota. Dan karena kami ingin ke Hard Rock Cafe mencari koleksi khas Hard Rock Amsterdam, maka kamipun naik becak yang di supiri seorang wanita Belanda. Hargapun bisa dinego, dan setelah sepakat harga, kamipun naik dan alamakkkk.... lincah dan gesit sekali sang supir wanita ini. Dan diapun banyak bercerita dalam bahasa Inggris tentang tempat-tempat yang kami lewati bahkan menawarkan untuk mengunjungi banyak tempat lain dengan harga yg telah kami sepakati sebelumnya, sungguh ramah dan baik hati bu supir ini. Tetapi karena kami tidak memiliki banyak waktu, akhirnya tawaran itupun kami tolak. Tak lama lama setelah urusan selesai, kamipun tiba di alun-alun kota dan bertemu teman kami.




Selain bangunan indah, red district, Satu hal lagi yang saya suka di kota ini adalah wisata kulinarinya, segala macam restoran bisa kita temukan di sini. Amsterdam dengan penduduk yang majemuk dari berbagai suku bangsa di dunia, maka tidak heran bila restoran yang ada disinipun dari berbagai bangsa juga. Dan sayapun tidak sulit untuk menemukan restoran Indonesia ataupun dari negara tetangga kita, Malaysia. Dan Teman kamipun membawa kami mencoba masakan dari Malaysia. Kamipun mencoba ikan asam manis, kwetiaw, dan sayuran serta beberapa makanan lainnya yang tentu saja cita rasa Asia. Entah karena lapar atau rakus, sayapun makan sampai nambah nasi tanpa malu-malu lagi.... ups... enak masakannya sih.

Selain terdapat berbagai jenis ratoran, terdapat juga fastfood dari berbagai negara, saat menuju ke restoran Malaysia, kami melewati sebuah fastfood Manneken Pis yang begitu ramai pengunjung dengan antrian yang panjang. Dan teman sayapun menjelaskan kalau itu adalah fastfood yang menjual kentang goreng yang terkenal di dunia. Saya bingung apa bedanya dengan kentang goreng tempat lain? Rasanya ingin mencoba tetapi melihat antrian yang panjang, sayapun mengurungkan niat. Kamipun akhirnya ke sebuah tempat yang menjual aneka macam kue-kue Asia, tidak lupa sayapun memborong beberapa kue untuk suami dan anak-anak, serta untuk bekal dijalan saat pulang ke Perancis esok harinya.



 Fastfood yg panjang antriannya


 Tempat saya membeli kue2 yg enak


 Resto Suriname


 Resto Malaysia yg kami mampir



Hari sudah menjelang malam ketika kami berjalan ke stasiun kereta untuk menuju ke tujuan kami masing-masing. Dan sekali lagi kami melewati kawasan red street district, dan kawasan inipun semakin ramai dengan para pengunjung, dikarenakan semakin malam semakin banyak hiburan, terutama para pekerja sex mulai menampakkan diri dengan dandanannya yang sexy. Mereka berdiri atau bergaya didepan jendela kaca yang seperti aquarium dengan latar belakang berwarna merah.. Dan sekali lagi sayapun terkaget-kaget....
Ahhhh Amsterdam yang cantik memang bikin kagen..... 



 Semakin malam semakin bersinar tiap jendela kaca yg menampakkan dagangannya






2 comments:

Vera Yulianti said...

Mba, negara mana yang biaya hidupnya paling murah mba? Makasih

Mimi Champy said...

@Vera Yulianti negara di Eropa? Kl Eropa biaya hidup masih murah itu sekitar eropa Timur mbak.