Tuesday, 16 December 2014

Tertawan di Saint malo, Kota Para Bajak Laut di Perancis







Sudah dua kali saya mengunjungi Saint Malo, pertama kali pada musim dingin dan kedua kali pada musim panas. Kota ini selalu mempunyai hal-hal menarik di setiap musimnya, ketika musim dingin yang berdekatan dengan Natal dan tahun baru, kota ini penuh cahaya dengan dekorasi Natal dan Tahun Baru, dan ketika musim panas, banyak acara maritim di gelar serta perahu-perahu besar hilir mudik di dermaga yang terkenal dengan bajak lautnya ini.

Saint Malo adalah sebuah kota pelabuhan yang terletak di bibir pantai Barat Laut Perancis, berhadapan dengan bagian selatan daratan Inggris, tepatnya di region Bretagne, 6 jam perjalanan darat dari Paris. Kota ini dikelilingi tembok-tembok raksasa nan kokoh dengan panjang hampir 2 km dengan lebar 12 kaki. Tembok besar ini untuk melindungi kota dari serangan musuh pada masa perang dulu dan serangan badai yang sering menerjang pada saat laut pasang.
Pada abad ke-6, St. Brendan dari Irlandia dan St. Aaron dari Wels datang ke tempat ini dan mendirikan biara, dan seiring perkembangan waktu, maka dari hanya biara lalu semakin banyak pendatang yang menetap dan menjadi sebuah kota dengan nama Saint Malo, dari nama seorang perintis uskup Celtic, St. MacLow. Kota pelabuhan ini banyak melahirkan pelaut-pelaut handal, diantaranya adalah Jacques Cartiers, orang Eropa pertama yang menjejakkan kakinya di Montreal dan Quebec, dan menamai daratan itu Canada pada abad ke -16, dan sebuah museumpun didedikasikan untuknya. 



 Sebagian tembok terlihat dr jalan


 
Ketika kami memasuki kota ini, dari jauh saya sudah melihat kekokohan tembok yang mengelilingi kota, dan begitu banyak kapal-kapal besar dan kecil dengan tiang-tiang yang tinggi hilir mudik ataupun bersandar di dermaga. Dan mata sayapun melihat sebuah kapal besar yang sangat mencolok dengan warna kuning dan tiang-tiang yang besar, itulah kapal Etoile du Roy. Kapal tradisional terbesar kedua di Perancis, dengan panjang 152 ft (46 m). Dan kita dapat masuk ke dalam kapal ini dimana masih terdapat 20 buah meriam yang masih ditempatnya seperti pada masa abad ke-18.
Setelah itu kamipun lanjut masuk ke dalam kota dan hawa kehidupan bajak lautpun sudah mulai tercium dengan segala pernak pernik bajak laut yang terpajang di setiap toko. Dari zaman dulu warga Sain Malo memang terkenal akan semangat kebebasannya, bahkan dalam percaturan politik pada konflik Perancis dan Inggris, mereka bebas menentukan hidupnya dengan menjadi bajak laut, dan kota ini semakin makmur karena kekayaan dari hasil merampok. Dan pada abad ke 17-18 mereka menjadi bajak laut resmi kerajaan Perancis dengan nama Corsaire.
Dan penduduk Saint Malopun bangga akan masa lalunya sebagai bajak laut, tetapi mereka tidak mau di sebut sebagai bajak laut atau Pirate tetapi sebagai Corsaire, dalam arti bajak laut yang berlisensi. Para Corsaire ini adalah bajak laut yang bekerjasama dengan kerajaan Perancis, dimana mereka merampok kapal-kapal musuh kerajaan terutama kapal Inggris dan Spanyol, lalu hartanya di bagi antara kerajaan Perancis dan para corsaire ini. Dan karena mereka merampok demi kepentingan kerajaan Perancis, maka mereka tidak pernah di tangkap. 
Salah satu Corsaire yang terkenal adalah Robert Surcouf, Roi des Corsaires (raja para bajak laut) yang berhasil merampas 47 kapal hanya dengan mengandalkan sekelompok kecil pasukan elit dan kapal kecil yang lincah, dan hal ini membuat kerajaan Inggris sangat menderita kerugian. Begitu hebatnya Surcouf di lautan, sampai Napoleon Bonaparte pernah memintanya memimpin armada laut Perancis. 



 Kapal Etoile du Roy


Ketika kami menyusuri jalanan dalam kota, tiba-tiba terdengar suara lonceng berdentang, dan kamipun mengikuti suara itu dan menemukan katedral St. Vincent/ Katedral Saint Malo yang bergaya gotik dan renaisans yang dibangun pada abad ke-11 dan 18. Dari katedral inilah sejarah kota Saint Malo dapat ditelusuri. Setelah itu kamipun lanjut naik ke atas benteng, dan mengelilingi kota dengan berjalan disepanjang tembok kota. Dan jangan lupa bila ke Saint Malo sebaiknya membawa jaket, karena kota ini sangat berangin, walaupun di musim panas.



 Katedral St. Vincent


Dari atas tembok ini banyak menawarkan panorama indah, dari teluk, tebing, pantai dan pulau-pulau serta bandara dengan kapal-kapal yang megah hingga rumah-rumah penduduk dalam benteng yang tetap terpelihara, perpaduan yang indah antara kehidupan laut dan kota. Diatas tembok ini juga kita melihat banyak burung camar yang beterbangan, mereka cukup jinak, tidak takut mendekati manusia ketika diberi makanan. Anak sayapun sangat senang bermain dan mengejar camar-camar ini, suatu aktivitas yang cukup menyenangkan bagi anak-anak.



 Memberi makan burung camar



Diatas tembok yang kokoh ini juga kita bisa melihat beberapa patung peninggalan bersejarah, seperti patung Jacques Cartier, Robert Surcouf, dan Réné Duguay-Trouin (bajak laut yang menjadi laksamada angkatan laut Perancis), serta meriam-meriam, dan juga terdapat menara pengawas disetiap sudut benteng, yang dipergunakan untuk mengawasi musuh dari daratan dan lautan.
Selain pemandangan indah yang ditawarkan, pantai di luar tembokpun sangat cantik, tidak heran begitu banyak atraksi yang ditawarkan di pantai ketika musim panas, salah satunya kolam renang laut, kolam renang ini akan terlihat bila air surut, tetapi bila air pasang yang terlihat hanya menara loncatnya saja. Selain itu juga banyak ditawarkan atraksi permainan untuk anak-anak.



 Penampakkan sebagian tembok


 Pemandangan diluar tembok



 Pemandangan pantai dgn tiang2 utk penghadang dr badai ombak



 Berjalan diatas tembok yang nyaman


  Patung Robert Surcouf


 Patung Jacques Cartier



 Kolam renang alam ini tidak terlihat bila air pasang


  
Menjelang siang, kamipun merasa lapar dan mencari restoran atau kedai yang menjual makanan khas daerah sini. Saint Malo, Bretagne umumnya memang terkenal akan makanan lautnya, terutama kerang-kerangan, selain itu di sini juga terkenal akan galette dan crepe. Kami akhirnya memutuskan mencoba galette Bretonne, yaitu pancake tipis dengan isi daging asap, telur dan keju parut.... krispi di luar dan renyah di dalam, rasanya enak. Jenis makanan ini adalah salah satu kesukan keluarga kami, karena gampang bikinnya dan juga enak rasanya.

Setelah makan siang, kamipun melanjutkan penelusuran di jalan-jalan dalam kota yang tetap terpelihara sejak abad pertengahan. Dan banyak toko-toko suvenir yang menjual cinderamata khas Saint Malo dan Bretagne, cinderamata yang berkaitan dengan maritim, replika kapal, bajak laut, baju-baju khas pelaut serta buku-buku sejarah kota Saint Malo dalam berbagai bahasa.
Sayapun membeli beberapa suvenir baju serta dekorasi khas bajak laut Saint Malo.



 Jalan dalam kota pada saat musim dingin



 Salah satu jalan di Saint Malo


Selain katedral dan bangunan tua dalam kota, terdapat juga museum-museum yang terkenal di Saint Malo, diantaranya Musee château de Saint malo dan Musee International du Long-Cours Cap Hornier, dimana dulu pernah berfungsi sebagai penjara. Dan sekarang menjadi museum untuk menghormati para pelaut dari St. Malo, para penjelajah Perancis pertama yang menyeberangi ketangguhan semenanjung Cap Horn pada abad ke-17. Pada umunya museum-museum ini memajang benda-benda yang berhubungan dengan maritim dan pelayaran masa lalu, serta juga terdapat lukisan Jacques Cartier. Diluar benteng juga terdapat beberapa kastil atau bangunan bersejarah yang terletak di pulau-pulau, seperti Fort National yang terletak di sisi timur kota, dibangun pada tahun 1689 oleh arsitek militer Vauban, dan di Ile du Grand Bé terdapat makam Chateaubriand, penulis terkenal lahir di Saint Malo, Ile du Grand Bé adalah sebuah pulau yang terletak di laut terbuka. 100 m dari ile du Grand Bé terdapat benteng di pulau Petit Bé yang dibangun pada abad ke-17 oleh arsitek yang sama. Kedua pulau ini dapat dikunjungi bila air surut.



 Fort National


Setelah puas mengagumi kota bajak laut ini, kamipun melanjutkan perjalanan ke Mont Saint Michel



2 comments:

dian nafi said...

Wow seru. Pengeeen. Mudah2an suatu saat sampai ke sana juga. Amiin

Mimi Champy said...

@dian nafi Amiinnnnn.... Terma kasih udah mampir... kota2 yg dekat2 dgn Saint Malopun cantik2, spt Mont Saint Michel. :)