Wednesday, 24 December 2014

Timor Leste, Destinasi Baru Bagi Petualang







'Bondia, Diak kalae...', itulah salah satu kata yang sering saya dengar ketika berada di tanah Timor Leste/ Timor Lorosae, yang berarti 'selamat pagi, apa kabar' dalam bahasa Tetum, bahasa resmi Timor Leste, selain bahasa Indonesia dan bahasa Portugis yang masih di pakai.

Terakhir saya menginjakkan kaki di sini tahun 2005. Banyak pengalaman dan kenangan akan negara nan esotik ini, dengan senyuman penduduk setempat dan bahasa campuran antara dialek setempat dan bahasa Portugis yag berkembang menjadi bahasa Tetum.

Untuk mencapai kota Dili, ibu kota Timor leste, dapat melalui jalan darat dan udara, dan visa yang berlaku adalah Visa On Arrival dengan biaya 35 dolar, dan mata uang yang di pakai adalah dolar AS. Jika ingin ke Timor Leste lewat jalan darat, dapat naik travel dari Kupang di pagi hari dengan transit di Atambua untuk makan siang, lalu lanjut hingga diperbatasan dan dapatkan VOA, lalu perjalanan lanjut hingga ke tujuan pada sore hari. Jika ingin naik pesawat dari Denpasar bisa menggunakan Merpati atau Sriwijaya Air dengan harga tiket mulai dari Rp.1,5 – 2,4 juta sekali jalan. Dulu tahun 2005 terdapat penerbangan dari Kupang-Dili, Kakoak Air, yang menggunakan pesawat Cassa 212 berkapasitas 18 tempat duduk, penerbangan hanya 2 kali seminggu, pada jumat dan minggu, tetapi tidak berapa lama penerbangan ini beroperasi, akhirnya gulung tikar.



Anak-anak lokal


Kota Dili yang terletak di tepi pantai adalah sebuah kota yang kecil dan jangan membayangkan pemandangan dan kehidupan seperti di ibu kota Jakarta ataupun negara lain, mungkin akan membosankan bagi yang suka ke mal atau shopping. Malam hari di Dili artinya kesunyian, toko-toko, warung-warung jam 19:00 sudah tutup, meskipun ada beberapa tempat buka hingga tengah malam tetapi tidak seperti kehidupan malam di kota besar. Namun menurut informasi yang saya dapatkan, sudah ada sebuah mal di kota Dili, namanya Plaza Dili, dan di plaza ini juga terdapat sebuah biskop yang memutar film-film terbaru, dan juga terdapat sebuah mercu suar di pelabuhan Dili. Bila sore tiba, maka akan banyak pedagang yang menjajakan makanan di depan pantai dengan menggelar kursi-kursi plastik di atas pasir pantai.



 Gedung kantor perdana Menteri (foto teman)




 Pantai disekitar Cristo Rei

 
Selain itu kita dapat mengunjungi landmark kota ini, yaitu patung Kristus Raja, Cristo Rei, yang terletak dipuncak sebuah tanjung yang menjorok ke laut, Fatucama, 30 menit dari Dili. Pemandangan dari puncak dimana terletak patung Crito Rei ini, kita dapat melihat pemandangan laut yang indah disebelah kiri dan kanan, serta kota Dili di kejauhan. Dan bila ingin melihat keseluruhan tanjung ini yang berbentuk kepala buaya yang mengambang diatas air, maka dapat dilihat dari jalan yang menuju ke Maubesse.

Patung Cristo Lei dibangun pada masa pemerintahan Soeharto, tepatnya 1996. Patung ini mendapat penghargaan dari museum rekor Indonesia (MURI) sebagai patung tertinggi di Indonesia. Tinggi patung ini mencapai 27 meter, yang melambangkan Timor Timur sebagai provinsi ke-27. Patung ini merupakan patung tertinggi ke-2 di dunia setelah patung Christ Redemeer yang tingginya mencapai 38 meter di atas puncak Corcovado, di Taman Nasional Hutan Tijuca, kota Rio De Janeiro, Brazil.
Dan bagi pecinta diving, mungkin bisa mencoba ke peraian dekat Tibar, dimana dapat menemui penyu, barakuda, hiu kecil dan tuna, dan spot penyelam lainnya di Pulau Atauro, yang berjarak 20-25 km di utara Dili. Kadang di pulau ini dapat menemukan lumba-lumba yang berlompatan dan berkejaran dengan perahu, pada bulan Oktober dapat ditemui ikan paus yang melewati daerah ini. Kora-koral di sinipun tidak kalah indahnya.



 Jalan menuju ke Cristo Rei



 Kartu pos dengan gambar Cristo rei



Pemandangan bukit Fatucama yg spt kepala buaya


Salah satu kesukaan saya selama di Dili adalah ke pasar tradisional Tais Market di Colmera, dengan bangunan semi permanen yang menjual berbagai barang kerajinan tangan khas Timor Leste, seperti kain tais, tas, gelang, dan berbagai cinderamata lainnya. Dan di sini juga kita dapat melihat langsung para pedangang yang menenun kain tais.

Oh iya ada satu pengalaman saya ketika di Dili soal naik taxi. Taxi di Dili tidak memakai argo, harga tergantung kesepakatan antara penumpang dan supir. Dan suatu kali, saat saya berada didalam taxi menuju ke pantai Dili, tiba-tiba supir taxi menghentikan taxinya dan menerima penumpang lain yang menuju arah yang sama, dan tidak hanya sekali bisa berkali-kali selama taxi masih ada tempat duduk. Jadi jangan kaget bila taxi mengangkut dua atau tiga penumpang berbeda sekaligus. Selain taxi, terdapat juga transportasi lain dalam kota yaitu angkot yang sama seperti di Indonesia. 


 Rombongan acara adat atau keagaaman dgn baju tradisional


Biaya kehidupan di Timor Leste relatif mahal, dikarenakan memakai mata uang dolar AS, dan bahan pokok kebanyakan dari Indonesia atau negara lain. Tetapi jangan kuatir soal makanan, di sini makanan Indonesia tetap melekat dan menjadi salah satu makanan yang digemari. Banyak restoran atau warung-warung yang dimiliki oleh orang Indonesia. Selain itu juga terdapat banyak jenis makanan ala Portugis. Sedangkan makanan khas Timor Leste juga bisa kita dapatkan di beberapa warung yang dimiliki oleh orang asli Timor Leste. Satu pengalaman saya ketika makan roti khas Timor Leste adalah roti paun, yang seperti baguette tetapi berbentuk bulat dan keras. Pertama kali saya makan roti ini di suatu pagi, rasanya saya seperti makan roti yang sudah kering berhari-hari, dan cara makannya bisa di celup ke kopi atau susu. Satu makanan yang saya suka ketika berada di Dili adalah sayuran singkong yang dimasak dengan bunga pepaya, tidak ada rasa pahit, rasanya segar dan manis, tidak jauh berbeda dengan masakan Indonesia.


 Suatu sore di pantai Dili



Anak-anak lokal


Selain kota Dili, masih banyak daerah lain yang bisa di jelajahi di Timor Leste seperti, pulau Jaco, yang terletak di ujung paling timur dari pulau Timor, gunung Ramelau dengan ketinggian 2963 meter, Maubesse yang terletak diatas bukit, yang dimana kita dapat melihat pemandangan lembah nan cantik dari Hotel Pousada, dan masih banyak tempat-tempat lain yang bisa di kunjungi selain kota Dili.


 Narsis di Hotel Pousada

 
 Rumah penduduk diatas bukit di Maubesse


Rumah penduduk di Baucau



Happy Traveling...

13 comments:

Lilium said...

Wah...jadi pingin kesana, Mi. Harus nunggu si J gede dulu dech. Btw thanks for sharing!!

Mimi Champy said...

Iya kudu nunggu baby gede dulu say, soale di sana agak keras perjalanannya buat anak kecil.

Indrakurniadi Travel Blog said...

Foto2 nya keren2 mba! Jadi keinget waktu beberapa kali ke dili..sangat berkesan dgn keramahan penduduknya, anyway salam kenal ya mba :)

Mimi Champy said...

@Indrakurniadi Travel Blog Salam kenal juga mas Indra, wah suka ke TL yah? suka dgn pemandangannya di sana.... :)

Tira Soekardi said...

wah keren alamnya . apalagi yang itu sunset keren

Mimi Champy said...

@Tira Soekardi Alamnya masih alami dan indah loh mbak Tira.... Hanya masih agak susah ke sininya, karena lewat jalan darat lumayan lama dan lewat udara lumayan mahal....

Muhammad Imam Safi'i said...

Sayang premanisme di dili masih sangat kental....
(Posisi saya lagi di Hera - dili - timor leste )

Muhammad Imam Safi'i said...

Sayang premanisme di dili masih sangat kental....
(Posisi saya lagi di Hera - dili - timor leste )

Mimi Champy said...

@Muhammad Imam Safi'i Betul, setuju dgn pak Muhammad, krn itulah kudu beradaptasi dan juga menghormati lokal dan juga berhati2 tentunya :). Bapak ada di Hera?

Paket Wisata Dieng said...

fotonya keren keren huhu

Mimi Champy said...

@Paket Wisata Dieng Tapi memang tempatnya indah juga loh hi hi hi.....

Aneka Bibit Buah dan Tanaman said...

Terakhir kesana thn 2010,saya suka pantainya yg di hera dan cristo rei..
Palacio sekarang sdh bagus ya..

Hanya saya kurang sukanya banyak berkeliaran anjing dan babi..hahaha.

Mimi Champy said...

@Aneka Bibit Buah dan Tanaman Hahahaha... di sana memang banyak berkeliaran babi dan anjing. Tapi keindahan pantainya sangat cantik.