Tuesday, 25 November 2014

Catatan Perjalanan Bromo dan Madakaripura



Sudah begitu lama saya ingin ke gunung Bromo untuk melihat matahari terbit dari puncak gunung Bromo. Dan akhirnya kesempatan itu datang ketika ada ajakan ke Gunung Bromo dari club pecinta alam.

Dan pada saat hari yg dinantikan datang, jam 19.00 kami berkumpul di pasar Festival, Jakarta Selatan untuk berangkat ke Bromo dengan bus sewaan. Perjalanan memakan waktu yang cukup lama, hampir 14 jam, karena ada masalah dengan Lumpur Lapindo pada waktu itu di Porong Sidoarjo, Yang membuat kami harus menuju kearah lain lewat Probolinggo. Akhirnya kami sampai juga di Cemara Lawang, hotel dimana kami menginap pada jam 10 malam.
Setelah makan malam kami semua langsung tertidur lelap dan tanpa sadar tiba-tiba ada ketukan di pintu… Rupanya morning call jam 3 subuh untuk bersiap-siap menuju ke bukit Penanjakan, di mana kami akan melihat pemandangan matahari terbit dari balik awan diatas gunung Bromo. Kami telah bersiap di dalam hardtop dan tepat jam 3.30 kami berangkat. 



 Gunung Bromo, Batok dan Semeru

 
Perjalanan yang kami lalui sangat menantang karena saya merasakan banyak goncangan hebat dan seakan kami ini sedang berlomba dalam off road show…..dengan bapak supir yang handal tentunya!!
Setelah melewati goncangan demi goncangan tibalah kami di parkiran mobil, dan kami bukanlah yang pertama tiba di sana, tetapi sudah begitu banyak hardtop-hardtop yang terparkir. Ketika kami keluar dari mobil, udara dingin langsung menyerbu, untung kita telah diperingatkan harus memakai baju hangat 2 lapis, topi, sarung tangan dan tidak ketinggalan sang kamera tercinta. Kami lalu berjalan kaki menuju ke atas puncak bukit Penanjakan dengan jarak yang cukup jauh dengan jalan yang menanjak….dan tibalah kami di tujuan, tempat untuk melihat sang surya mengintip dari balik awan.

Detik demi detik penantian sang surya muncul akhirnya dimulai, ketika titik pertama keluar….klik,klik,klik, srret,srret…rupanya semua orang mengarahkan kamera, handycam baik perorangan ataupun dari stasiun tv untuk meliput momen yang berharga ini, yang sering disebut golden moment. Dari hanya satu titik warna orange di balik awan, lama-lama menjadi besar dan berubah warna semakin orange dan mulai kuning dan akhirnya menjadi putih kekuningan….sungguh luar biasa perubahan warna ini…..
Dan ketika saya menoleh ke kanan di sana telah menunggu pemandangan gunung Bromo, gunung Batok, dan gunung Semeru yang sebentar-sebentar batuk asap, yang merupakan rangkain 3 gunung berjejer yang mengagumkan dengan kabut yang menutupi kaki gunung Bromo. Perasaan membawa kita seakan-akan diatas awan yg begitu indah. Dan sebaris lagu tergiang di telinga ………….. Negeri di awan dari Katon Bagaskara.



 Selfie dulu sebelum jalan


 
Setelah beberapa jam di atas bukit Penanjakan, lalu kamipun kembali ke hardtop untuk menuju ke gunung Bromo. Dan kembali kami lalui jalan yang penuh goncangan lalu melewati padang pasir caldera…. Akhirnya kami sampai di parkiran mobil dan kami memutuskan untuk menyewa kuda hingga sampai ke kaki Bromo. Dan dari sana kami melanjutkan dengan naik tangga yang berjumlah 135 anak tangga hingga tiba di bibir kawah Bromo. 



 Perjalanan yg cukup menantang



Tangga menuju ke puncak Bromo



Begitu saya sampai di atas…pemandangan yang disuguhkan sungguh luar biasa, kawah yang dipenuhi asap belerang dan gunung yang masih aktif….serta pemandangan jauh di padang pasir caldera ada sebuah pura Hindu, mayoritas penduduk Tengger Caldera adalah Hindu yang sama dengan di Bali. Dan setiap tahun mereka selalu ada perayaan Kasodo, yaitu perayaan mempersembahkan makanan, sayuran serta buah-buahan ke kawah Bromo, di mana legenda menceritakan tentang legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Selama bertahun-tahun mereka tidak dikarunia anak dan akhirnya mereka memohon di gunung Bromo meminta anak kepada dewa, dan mereka di beri 12 anak, dengan catatan mereka harus mempersembahkan anak termuda mereka ke kawah Bromo, maka setiap tahun selalu di peringati perayaan Kasodo ini.



 Mencoba berjalan jalan setapak dengan kiri kanan tebing



 Pemandangan padang pasir Caldera dgn kuilnya



Setelah itu kamipun kembali ke hotel, makan siang dan bersiap-siap menuju ke air terjun Madakaripura yang terletak di Desa Sapeh, kecamatan Lumbang, kabupaten probolinggo. Setelah 45 menit perjalanan, kamipun sampai di parkiran, dan perjalanan kami diteruskan dengan berjalan kaki dengan jarak sekitar 1 km. Dan kami melewati jalan setapak yang sebagian sudah di cor dan beberapa bagian rusak karena banjir, medan yang harus kami lewati cukup susah, tetapi ketika hampir sampai, dari jauh saya sudah bisa melihat keindahan air terjun ini.
Air terjun Madakaripura adalah salah satu air terjun di kawasan taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ketinggian air terjuan ini sekitar 200 m dan berbentuk curuk yang dikelilingi tebing-tebing yang menjulang tinggi, dengan tetesan air pada setiap bagian tebing seperti layaknya hujan, dan tiga diantaranya mengucur deras membentuk air terjun kembali. Untuk bisa mencapai hingga dibawah air terjun, kami harus melewati sungai kecil dengan bebatuan yang licin, walau cukup sulit tetapi keindahan dan gemuruh dari air terjun ini sungguh spektakuler.



Beberapa baris Air terjun



 Air terjun tunggal



 Sungai kecil dengan bebatuan yg licin



 Patung Gajahmada


Adapun Nama Madakaripura berarti 'tempat terakhir', dimana konon patih Gajahmada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di lokasi air terjun ini, di dalam sebuah goa pada air terjun utama. Itulah kenapa terdapat sebuah patung Gajahmada di tempat parkiran. Meski tidak ada bukti sejarah yang tertinggal (selain patung buatan masyarakat setempat) di tempat itu, dan hanya keyakinan masyarakat setempat yang menjadi dasar.

Setelah puas mengagumi air terjun ini, kamipun kembali ke parkiran dan melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta. Sungguh Indonesia mempunyai banyak alam yang indah dan kebudayaan yang sangat beragam….. Tidaklah salah dikatakan "Jamrud Khatulistiwa". 

No comments: