Thursday, 30 October 2014

Menelusuri Jejak kamp konsentrasi Daghau, Jerman

Mungkin bukan hal yang menyenangkan untuk berwisata di tempat ini, tetapi saya sarankan anda mengunjungi kamp ini untuk melihat dan tidak melupakan era gelap kemanusiaan, lambang kebengisan, teror kehidupan, lebih baik mati daripada hidup di zaman gelap pada saat itu. Sejumlah besar tahanan yang disalahgunakan oleh para dokter SS (Schutzstaffel ) untuk percobaan medis; sejumlah tahanan menderita penyiksaan hingga kematian, hipotermia, malaria, kelaparan, dan percobaan lainnya yang atas dasar nama ilmu kedokteran para tahanan ini melalui hal-hal yang sangat mengerikan. 

 



 

Ada beberapa kamp konsentrasi Nazi yang tersebar di berbagai daerah dan negara, dan yang terbesar adalah Auschwitz Polandia, kamp yang saya kunjungi adalah kamp Dachau. Kamp ini merupakan kamp konsentrasi Nazi yang terletak di Dachau, yang berada di utara Munchen, Jerman bagian selatan, adalah salah satu kamp konsentrasi Nazi pertama di Jerman yang didirikan pada tanggal 22 Maret 1933. Kamp ini sebagai contoh model pertama untuk semua kamp-kamp konsentrasi di kemudian hari dan sekolah kekerasan untuk SS Nazi. Dalam dua belas tahun keberadaannya, lebih dari 200.000 orang dari 34 negara dipenjarakan di Dachau dan sub kampnya. Lebih dari 50.000 orang meninggal, yang terbesar adalah warga Yahudi, tahanan politik, homoseksual, gypsi, dan komunis. Pada 29 April 1945 Dachau dibebaskan oleh pasukan Amerika, dan yang selamat 32.000 orang.



  Salah satu pemandangan dlm foto


Ketika saya sampai di kamp ini yang di pagari tembok tebal setinggi 3 meter dengan menara pengintai di tiap sudutnya. Dibawah tembok bagian dalam terdapat pagar listrik yang mematikan. Di atas gerbang kamp ini terdapat tulisan '"Arbeit Macht Frei" ("Work Sets You Free/ Bekerja maka akan merdeka”). Kamp ini dibagi menjadi dua bagian--daerah kamp dan daerah krematorium. Daerah kamp terdiri dari 32 Barak, termasuk satu untuk rohaniwan yang dipenjara yang menentang rezim Nazi dan satu untuk eksperimen medis.

Kebetulan cuaca gerimis dan langit kelabu, sehingga sayapun cepat-cepat masuk ke ruangan museum, dimana saya di suguhkan foto-foto para tahanan yang sungguh membuat saya merinding melihatnya, dengan begitu banyak penderitaan karena siksaaan, kelaparan, dan juga sebagai kelinci percobaan dari para dokter Nazi. Serta foto-foto mayat-mayat yang di tumpuk dalam satu liang, yang di jejer, foto mayat-mayat yang di tumpuk setelah dari kamar gas beracun, atau foto mayat-mayat yang masih bergelantungan di pagar listrik sebagai peringatan bagi yang ingin melarikan diri. Serta foto ketika para tahanan itu dijadikan kelinci percobaan diatas meja bedah. juga foto-foto bagaimana kondisi mereka ketika diselamatkan oleh tentara Amerika. Banyak pengunjung yang datang ke kamp ini tetapi tidak ada hingar bingar wajarnya tempat wisata, yang ada semua diam seribu bahasa dan dengan berbagai expresi di wajah mereka. Memasuki kamp ini tidak di pungut bayaran hanya membayar biaya parkir mobil yang seharga 3 euro.



Barak



Setelah dari ruangan yang penuh dengan foto, saya melanjutkan perjalanan saya dengan peta petunjuk untuk mengikuti bagaimana perjalanan para tahanan itu ketika sampai di kamp ini, lalu para tahanan itu dimasukkan ke dalam satu ruangan yang memang dikhususkan untuk para tahanan baru. Di sini para tahanan harus melucuti semua yang melekat ditubuhnya dan semua barang bawaannya, lalu mereka di haruskan mandi dan ganti pakaian khas tahanan kamp, dan mereka masing-masing dimasukkan ke barak dengan tempat tidur sempit dan bertingkat. Ada 30 barak yang terdapat di kamp ini, tetapi hampir semua sudah di bumi hanguskan, dalam satu barak ada yang bahkan menampung 1800 tahanan. Toilet tahanan berada di ruangan yang berbeda, namun masih berada dalam barak tersebut. Para tahanan hanya diperkenankan memakai toilet di waktu pagi dan siang hari saja dan hanya beberapa menit. Orang tua, atau yang sakit-sakitan tak jarang meninggal di tempat dan terinjak-injak bercampur dengan kotoran. Juga, bagi tahanan yang tidak mau bekerja mereka akan disiksa dan ditenggelamkan ke dalam air kloset. 

Para tahanan yang telah masuk ke kamp konsentrasi ini tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menghirup udara bebas, bahkan banyak yang nekat melarikan diri tetapi selalu berakhir kematian dengan di tembak di tempat atau mati tersengat listrik pagar. Mereka mengalami penyiksaan-penyiksaan, kerja keras dengan berbalut baju tipis di musim dingin, mendapat berbagai penyakit hingga meregang nyawa. Pada masa itu terkenal dengan istilah dokter pencabut nyawa, dikarenakan bukan sebagai penyembuh penyakit tetapi sebagai kelinci percobaan bagi dokter-dokter Nazi. 

 

Gas Chamber


Lalu saya beralih ke daerah krematorium, Ketika saya masuk ke gedung ini, rasa ngeri menyusup di dada. Terbayang ratusan tahanan yang di bunuh di ruangan gas beracun/ gas chamber ini, dimana para tahanan di masukkan ke dalam satu ruangan dengan alasan untuk kebersihan dan kesehatan maka para tahanan diharuskan membuka semua baju mereka. Setelah itu mereka dimasukkan ke satu ruangan khusus, dan mereka di beritahu bahwa itu ruangan untuk sterilisasi dari berbagai kuman yang melekat di tubuh mereka. Ketika para tahanan telah masuk ke ruangan itu, bukan air yang keluar dari pancuran tetapi gas beracun, kemudian para tahanan yang mati lalu dikumpulkan dan di bakar di ruang krematorium hingga tidak bersisa. Sungguh suatu era kemanusiaan yang kelam. 


Ruang Krematorium


20 tahun kemudian, Dachau menjadi situs Memorial didirikan atas prakarsa tahanan yang masih hidup. Situs Memorial ini mencakup taman kamp tahanan yang asli, krematorium, pameran berbagai kenangan, Perpustakaan dan arsip, dan toko buku. Setelah mengunjungi kamp ini, saya rasa Jerman adalah negara yang berani mengungkap sejarah kelam negerinya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Tidak semua bangsa punya keberanian untuk membuka aib negerinya sendiri. 


Happy Traveling....

2 comments:

Hermiadi Eher said...

Saya dari beberapa tahun lalu sering baca tentang trageni ini ataupun browsing gambar2 pada saat itu digugel. Sungguh mengerikan kondisi saat itu. Sudah nonton nda Mba film Anna Frank nya... Jika berkenan visit jg ya ke blog saya di imeher.blogspot.co.id

Mimi Champy said...

@Hermiadi Eher waktu saya ke sana dan sambil bayangin kondisi korban, bikin merinding. saya blm nonton itu, hanya nonton Schindler's List.